Gambar

 

 Judu Buku       : Risalah Ahlusunnah Wal-Jama’ah; Dari Pembiasaan Menuju Pemahaman dan   Pembelaan Akidah-Akidah NU

Penulis             :Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Penerbit           :Khalista

Tahun Terbit    : Cetakan I, Juni 2012

Tebal               : XIV + 346 Halaman                                    

 

Di masyarakat Indonesia saat ini banyak berbagai aliran pemikiran,ormas dan saling serang menyerang secara pemikiran. Buktinya sudah semakin marak saling membid’ahkan, saling mengkafirkan sesame muslim dikarnakan adanya perbedaan furruiiyah . yang seharusnya tak perlu dimasalahkan. Selama perbedaan itu ada dasar dan mempunyai rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan salah satu komoditi yang paling laris adalah pengakuan “Ahlu Sunnah Wal Jama’ah”. Maka dari itu kita lihat bagaimanya sudut pandang para ulama tentang Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.

Dalam Buku “Risalah Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah; dari Pembiasaan Menuju Pemahaman dan Pembelaan Akidah-Akidah NU”. Buku ini ditulis oleh Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur yang terdiri dari tiga penulis yaitu; KH. Abdurrahman Navis,Lc., M.H.I, Muhammad Idrus Romli,Faris Khoirul Anam, Lc., M.H.I. Dan Pengantar dari KH. Miftahul Akhyar, Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Berikut sepenggal pengantar dari beliau:

“ Selama ini, banyak orang, kalangan, dan kelompok yang mempertanyakan Paham NU, baik akidah maupun amaliyah. Di tengah masyarakat, muncul “serangan-serangan” yang menggugat tata cara ibadah (‘ubudiyah) dan tradisi keislaman yang dilakukan warga NU, seperti mauled Nabi, Tahlilan, istighatsah, tawassul dan lain sebagainya. Kaum nahdhiyyin yang mencerminkan mayoritas umat Islam di Indonesia merasa terganggu dengan adanya cap bid’ah, khurafat, syirik pada amaliyah yang telah menjadi kebiasaan mereka tersebut. Selain itu, muncul pula kelompok dan aliran yang tidak sesuai dengan paham Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah (Aswaja) yang menjadi keyakinan NU. Tak jarang, paham-paham tersebut memepengaruhi pikiran warga nahdliyin”.( KH. Miftahul Akhyar )

Berdasarkan masalah diatas maka disusunlah buku “Risalah Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah; dari Pembiasaan Menuju Pemahaman dan Pembelaan Akidah-Akidah NU”.

 

Secara garis besar buku ini membahas tiga tema utama:

Pertama, penjelasan tentang berbagai kelompok, aliran dan sekte dalam sejarah umat Islam serta beberapa kelompok atau organisasi yang lahir dan berkembang pada kurun-kurun akhir, baik di Indonesia maupun di Negara lain. Pembahasan ini berguna untuk meletakkan posisi Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah yang mederat (tawassuth).

Kedua, pembahasan tentang Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah yang di ikuti oleh Nahdhatul Ulama (Aswaja NU), termasuk penjelasan mengenai madzhab teologi al_Asy’ari dan al-Maturidi yang di ikuti oleh organisasi terbesar di Indonesia ini, bahkan oleh mayoritas umat Islam di dunia sepanjang zaman.

Ketiga, pemaparan mengenai tradisi islami dan dalil-dalilnya. Khususnya bagi warga NU yang barangkali memandang tradisi islami sebagai suatu kebiasaan, kini sudah saatnya memahami, bahkan melakukan pembelaan, bahwa apa yang mereka lakukan selama ini buaknlah bid’ah yang sesat, yang dapat menjerumuskan mereka dalam siksa neraka. Sehingga bagi selain warga NU yang selama ini rajin menuduh bahwa NU adalah “gudang”nya tahayul, bid’ah, c(k)hurafat (yang biasa disingkat TBC), menjadi mengerti bahwa yang dilakukan umat islam yang berafiliasi ke NU ternyata memiliki dasar dalil. Minimal, mereka menjadi sosok yang dapat memahami perbedaan ditengah umat dengan cara yang santun, dewasa, dan arif. Perbedaan dalam masalah furu’iyyah (cabang agama) adalah suatu keniscayaan, bukan malah dijadikan sebagai senjata yang digunakan untuk menyerang sesame saudara seiman dan seagama.

Dalam bagian pertama buku ini menjelaskan tentang kelompok, aliran dan sekte dalam sejarah umat Islam yang diawali dengan penjelasan Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah. Baik secara bahasa dan istilah. Berikut kutipan dari buku tersebut.

Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah dari sudut pandang bahasa:

Ada tiga kata yang membentuk istilah tersebut, yaitu:

  1. Ahl, beerati keluarga, golongan, atau pengikut.
  2. Al-Sunnah, secara bahasa bermakna al-thariqah wa law ghaira mardhiyah (jalan atau cara walaupun tidak diridhai).
  3. Al-Jama’ah, berasal dari kata jama’a artinya mengumpulkan sesuatu, dengan mendekatkan sebagian ke sebagian yang lain. Kata “Jama’ah” juga berasal dari kata ijtima’ (perkumpulan), yang merupakan lawan kata dari tafarruq (perceraian) dan juga lawan kata dari furqah (perpecahan). Jama’ah adalah sekelompok orang banyak; dan dikatakan juga sekelompok manusia yang berkumpul berdasarkan satu tujuan. Selain itu, jama’ah juga berarti kaum yang sepakat dalam suatu masalah.

Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah dari sudut pandang istilah:

Menurut istilah, “Sunnah” adalah suatu nama untuk cara yang diridhai dalam agama, yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW atau dari selainnya dari kalangan orang yang mengerti tentang Islam, seperti para Sahabat rasulullah SAW. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah:

“Ikutilah sunnahku dan sunnah para Khulafa Rasyidin setelahku” (Hasyim Asy’ari, Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah, hal.5)

Dan beberapa pendapat para ulama pengertian Ahlu Sunnah Wal Jama’ah:

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani (471-561 H/1077-1166 M) menjelaskan:

“Al-Sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW (meliputi ucapan, perilaku serta ketetapanbeliau). Sedangkan al-Jama’ah adalah segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan sahabat Nabi SAW pada masa khulafaur Rasyidin yang empat, yang telah diberi hidayah (mudah-mudahan Allah member rahmat kepada mereka semua).” (Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq, Juz I, hal.80)

Menurut KH.M. Hasyim Asy’ari, “Sunnah” adalah:

“Nama bagi jalan dan perilaku yang diridhai dalam agama yang ditempuh oleh Rasulullah SAW atau orang-orang yang dapat menjadi teladan dalam beragama seperti para sahabat –radhiyallahu ‘anhum- , berdasarkan sabda Nabi SAW,”Ikutilah sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin sesudahku”. (Hasyim Asy’ari, Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah, hal.5)

Menurut Syaikh Abdullah al-Harari menjelaskan:

“Hendaklah diketahui bahwa Ahlu Sunnah adalah mayoritas umat Muhammad. Mereka adalah para sahabat dan golongan yang mengikuti mereka dalam prinsip-prinsip akidah……..sedangkan al-jama’ah adalah mayoritas terbesar (al-sawad al-a’zham) kaum muslimin.” (Syaikh Abdullah al-Harari, Izhhar al-‘Aqidah al-Sunniyyah bi Syarh al-‘Aqidah al-Thahawiyyah, Beirut: Dar al-Masyari,1997,hal.14-15)

 

Selain itu Ahlu Sunnah memiliki cirri khas yaitu , “Allah ada tanpa arah dan tempat” dalam akidah. Dalam  hukum fiqih berpedoman pada mazhab yang empat, yaitu: Imam Abu hanifah, Imam malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad bin Hambal. Dalam bidang hadts merujuk pada al-Kutub al-Sittah.

 

Demikian sebagian kecil dari penjelasan dari buku “Risalah Ahlusunnah Wal-Jama’ah”.

 

 Oleh: Ahmad Khusein