"Tuntut ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat"

ETIKA MINUM SANG NABI

ETIKA MINUM SANG NABI

Nabi Muhammad saw. adalah manusia yang paling sempurna, manusia yang tidak seperti manusia biasa “Basyarun Lakal Basyar”. Beliau adalah manusia yang terpilih, akhlaknya merupakan cerminan al Qur’an. Sabdanya senantiasa dalam bimbingan wahyu, Beliau sebagai figur ideal “Uswatun Hasanah” dalam segala hal untuk diteladani. Bahkan etika minum sekalipun beliau contohnya di masa hidupnya, maka sepantasnya kita meneladani sang Nabi. Sebgaimana telah diriwayatkan dalam beberapa hadits.

Pertama, Menyebut Asma Allah Ketika Akan Minum

Sebagai salah satu bentuk rasa syukur terhadap nikmat yang dikaruniakan oleh Allah adalah dengan membaca Basmalah ketika akan minum dan membaca Hamdalah sesudah minum. Sebagaimana di jelaskan dalam hadits riwayat Tirmidzi :

“Janganlah kalian minum sekaligus seperti cara minumnya onta tetapi minumlah dua atau tiga kali tegukan dan bacallah nama Allah (Basmalah) jika akan minum dan bacalah hamdalah jika selesai minum.” ( H.R. Tirmidzi)

Do’a ketika minum air zam-zam:

الهم اني اسالك علمانافعاورزقاواسعاوشفاءمن كل داء

Artinya:

“Ya  Allah sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas dan kesembuhan dari segala penyakit”

Do’a setelah minum sebagaimana di bawah ini:

الحمد لله الذي سقاناعذبافراتابرحمته ولم يجعله ملحااجاجا بذ نو بنا

Artinya:

“Segala puji bagi Allah dengan berkat rahmat-Nya telah memberikan minum air tawar yang segar dan tidak menjadikannya asin lagi pahit karena dosa-dosa kami”

Kedua, Tidak Minum Sekali teguk

Cara minum yang baik adalah tidak minum sekali teguk. Dengan minum tidak sekali teguk ada beberapa manfaat yaitu: mencegah dari penyakit hati, ginjal dan limpa. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Dailami:

“Apabila kalian minum, minumlah dengan cara sedikit demi sedikit jangan meminumnya dengan cara sekali teguk, karena sesungguhnya hal itu akan menyebabkan penyakit hati ( ginjal dan limpa).” ( H. R. Dailami )

Ketiga, Menggunakan Tangan Kanan Bila Hendak Minum

Segala sesuatu yang baik sebaiknya menggunakan tangan kanan. Cara minum ala Nabi pun menggunakan tangan kanan. Karena minum menggunakan tangan kiri adalah kebiasaan setan. Sesuai riwayat Muslim berikut:

“Apabila makan dan minum, makan dan minumlah dengan tangan kanan karena sesungguhnya setan biasa makan dan minum dengan tangan kiri.”( H.R. Muslim )

Keempat, Tidak Minum Langsung Dari Mulut Teko atau Kendi

Minum langsung dari mulut Teko, Kendi atu tempat penyimpanan air minum hukumnya makruh karena hal ini selain menjijikkan orang lain, juga merupakan perbuatan setan. Larangan meminum langsusng dari tempat penyimpanan air sebagaimana disabdakan Nabi dalam riwayat Muslim:

“Rasulullah saw. Melarang menunggingkan teko, kemudian minum dari mulut teko tersebut.” ( H.R. Muslim )

Kelima, Tidak Meniup ke Dalam Tempat minuman

Minuman yang masih panas makruh ditiup-tiup, jika masih panas diamkan saja sehingga reda panasnya baru diminum. Karena minuman terlalu panas atau terlalu dingin tidak baik bagi kesehatan. Rasulullah pun melarang meniup-niup minuman sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Tirmidzi:

“Bahwasanya Nabi saw. Telah melarang bernafas dalam tempat air atau meniup kedalamnya,” ( H.R. Tirmidzi )

Keenam, Minum Sambil Duduk

Apabila memungkinkan minum sebaiknya sambil duduk, karena yang demikian lebih baik dari pada berdiri. Sesuai hadits yang diwayatkan oleh Tirmidzi:

“Saya telah melihat Rasulullah saw. Minum sambil berdiri dan minum sambil duduk.” ( H.R. Tirmidzi )

Ketujuh, Sunnah Bernafas di Luar Gelas atau Tempat Minuman Lainnya

Disunnahkan bernafas di luar gelas setiap tegukan, berarti tidak minum sekali tegukan. Karena bernafas di luar gelas sebanyak tiga kali itu lebih baik dan lebih bagus bagi kesehatan. Sebagaiman sabda Nabi yang di riwayatkan oleh muttafaq Ilaih:

“Rasulullah saw. Jika minum bernafas sampai tiga kali yakni bernafas di luar tempat minuman.” ( H.R. Bukhori & Muslim )

Kedelapan, Wadah Minuman tidak terbuat dari Emas dan Perak

Nabi melarang menggunakan wadah minuman dari emas dan perak. Sebagaimana hadits yang bersumber dari Khudzaifah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim:

“Rasulullah saw. Melarang kita dari pakaian yang terbuat dari sutera yang halus dan tebal, dan minum dari bejana emas atau perak, sambil bersabda : itu semua untuk orang-orang kafir di dunia dan untuik kamu di akhirat.” ( H.R. Muttafaq Ilaih )

ADAB MAKAN ALA RASULULLAH

ADAB MAKAN ALA RASULULLAH

Islam adalah agama samawi yang terakhir diturunkan ke bumi, mengatur segala aspek kehidupan pemeluknya. Dalam kehidupan sehari-hari pun segala tindakan dan tingkah laku umat Islam memiliki aturan yang bersumber dari al Qur’an & al Hadits. Begitu juga dalam hal makan yang kita lakukan setiap hari, dalam sunnah Nabi memiliki aturan yang patut kita tauladani.

Karena rasulullah adalah suri tauladan yang pantas di contoh dalam segala tingkah lakunya. Beliau di utus untuk menyempurnakan akhlak manusia “Innama Buitstu Li Utammima Makarimal Akhlah”. Etika makan dalam Islam yang di contohkan oleh Rasulullah yaitu:

 

Pertama, Mencuci Tangan Sebelum Dan Sesudah Makan

Sebelum makan kita harus mencuci tangan supaya kotoran atau pun kuman tidak ikut termakan sehingga menyebabkan penyakit. Maka dari itu, Islam sangat memperhatikan kebersihan “ At Thohuru Syatrul Iman” kebersihan sebagian dari iman.

Adapun mencuci tangan setelah makan supaya bau dan sisa-sisa makan yang masih menempel di jari tangan bersih dan sehat. Sebagaimana penjelasan hadits berikut:

“Keberkahan makanan : Terletah pada mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.” (H.R. Abu Daud)

 

Kedua, Membaca Bismillah Pada Awal Dan Do’a Sesudahnya.

Segala perbuatan baik sebaiknya diawali dengan basmalah sehingga mendapat keberkahan. Begitu juga dengan makan harus diawali dengan basmalah. Walaupun kita lupa membaca basmalah dianjurkan membaca basmalah ketika kita ingat. Berdasarkan hadist Nabi:

اذااكل احدكم طعاما فليذ كراسم الله تعا لى فا ن نسي ان يذ كراسم الله على اوله واخره

“Apabila seseorang di anatara kalian memakan makanan hendaknya dia menyebut nama Allah. Apabila lupa menyebut nama Allah diawalnya, hendaklah ia mengucap : Bismillahi ‘awwalihi wa akhirihi .” (H.R. at Tirmidzi)

 

Setelah membaca basmallah kemudian membaca do’a sebelum makan yaitu:

 

اللهم بارك لنا فيما رزقتناوقنا عذاب النار

“ Ya Allah berkatilah kami terhadap apa-apa yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

Adapun do’a setelah makan adalah sebagai berikut:

 

                                                            الحدلله الذي اطعمنا وسقانا وجعلنا مسلمين

 

“Segala puji bagi Allah yang telah member kami makan dan minum dan telah menjadikan kami sebagai orang muslim.”(H.R. Ahmad dari abi Said)

Ketiga, Di Sunnahkan Makan Berjamaah

Makan berjamaah membawa berkah, oleh karena itu disunnahkan makan bersama-sama dengan memperbanyak anggota. Baik dengan anggota keluarga atau orang lain. Berdasarkan hadits Nabi:

“Makanan satu orang mencukupi untuk dua orang, dan makanan dua orang cukup buat empat orang, dan makanan empat orang cukup buat delapan orang.”(H.R.Muslim)

 

Keemapat, Qonaah Dengan Makan Yang Dihidangkan

Bersyukur dengan rizki yang telah dianugrahkan oleh Allah, sehingga Allah menjanjikan menambahkan rizkinya kepada orang yang bersyukur sebagaimana firman Allah:

“Sesunguhnya jika kamu bersyukur, pasti aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti azab-Ku sangat berat.”( Q.S. Ibrahim:7)

 

Kelima,Menggunakan Tangan Kanan Ketika Makan

Sejalan dengan apa yang diajarkan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, baik muamalah maupun ibadah. Bahkan cara makan pun beliau contohkan sebagaimana beliau anjurkan dalam hadits:

“Apabila kamu makan dan minum, maka makan dan minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya setan bila makan dan minum menggunakan tangan kirinya.”( H.R. Muslim)

 

Keenam, Sunnah Melepas Alas Kaki Ketika Makan

“Apabila disuguhkan kepada seorang diantara kalian makanan sedangkan ia masih memakai kedua sandalnya, maka hendaknya ia melepaskan kedua sandalnya itu, Karena sesungguhnya hal itu lebih enak bagi kedua telapak kakinya dan hal itu merupakan sunnah.”( H.R. Abu Ya’la dari Anas)

 

Ketujuh,Mendinginkan Makan Sebelum Dimakan

Makan makan yang masih panas makruh kukumnya karena dapat merusak kesehatan. Oleh Karena itu apabila makanan masih panas didinginkan terlebih dahulu. Senada dengan sabda Nabi:

“Nabi saw. Melarang memakan makanan yang masih panas kecuali panasnya telah reda.” ( H.R. Thabrani )

 

Kedelapan, Makanlah Dengan Posisi Duduk Yang Baik Hingga Selesai

Sebagaimana Rasulullah sabdakan dalam hadist berikut:

“Saya tidak pernah makan sambil bersandar”. ( H.R. Bukhari)

 

Posisi yang baik dalam makan adalah duduk tegak lurus sehingga memudahkan makanan masuk kelambung dan mudah dicerna dengan baik.

 

Kesembilan, Makruh Meniup-Niup Makanan

Makanan yang masih panas makruh hukumnya ditiup-tiup, maka biarkan hingga makan itu tidak panas. Sebagaimana dianjurkan oleh Nabi :

“ Bahwa Nabi saw. Telah melarang bernafas dalam tempat air dan meniup-niup makanan dan minuman.” ( H.R. Tirmidzi)

 

Kesepuluh, Tidak Makan Sebelum Lapar Dan Berhenti Makan Sebelum Kenyang

Dalam hal apapun kita tidak boleh berlebih-lebihan, demikian juga makan harus jangan sampai melampaui batas. Porsi yang dianjurkan oleh Nabi dalam makan adalah sepertiga rongga perut atau lambung. Rincian sepertiga sebagaimana dijelaskan oleh Nabi:

“ Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulang rusuknya. Jika pun ingin berbuat lebih, maka sepertiga rongga perutnya untuk makanan dan sepertiganya untuk minuman dan sepertiganya lagi untuk nafasnya.” ( H.R. Tirmidzi )

Dalam hadits lain Nabi menyatakan:

“ Kami adalah suatu kaum yang tidak makan sebelum lapar dan apabila makan tidak sampai kenyang.”

 

Kesebelas, Sunnah Makan Dengan Menggunakan Tiga Jari

Rasulullah apabila makan menggunakan tiga jari, disunnahkan demikian agar makan dengan menyedikitkan suapan. Sebagimana di kisahkan dalam hadits berikut ini:

“ Rasulullah saw. Makan dengan tiga jari dan mengulum tangannya ( jari-jarinya) sebelum mengusapnya.” ( H.R. Muslim )

 

Keduabelas, Disunnahkan Bila Makan Dimulai Dari Pinggir          

Etika makan Rasulullah ketika makan memulai dari pinggir agar keberkahan dapat dirunut dari awal sampai akhir. Sabda Nabi saw:

“ Berkah itu turun ditengah-tengah makanan, maka makanlah dari tepi-tepinya dan jangan makan dari tengah-tengahnya.” ( H.R. Abu Daud dan Tirmidzi )

 

Ketigabelas, Mengambil Makanan Yang Terjatuh

Ketika kita makan ada suapan kita yang terjatuh maka ambilah makanan yang terjatuh kemudian bersihkan yang kotor dan makanlah yang bersih. Mengulum jari-jari sebelum mencuci tangan, Karena kita tidak pernah tahu dimana berkah Allah itu berada. Sebagaimana anjuran Nabi dalam hadits :

“Apabila suapan mu jatuh, ambillah kembali lalu buang bagian yang kotor dan makanlah bagian yang bersih. Jangan dibiarkan dia dimakan setan dan janganlah engkau membersihkan tanganmu dengan lap ( sapu tangan ) sebelum engkau mengulum jari-jarimu. Karena kamu tidak mengetahui makanan mana yang membawa berkah.” ( H.R. Muslim)

 

Keempatbelas, Makruh Mencela Makanan Dan Sunnah Memujinya

Bila kita dihidangkan makanan dan kita tidak menyukainya maka jangan mencela lebih baik diam atau membiarkannya. Rasulullah tidak pernah menghina makan. Sebagaimana dikisahkan dalam hadits :

“Rasulullah saw tidak pernah mencela makanan apapun, sekali-kali tidak. Apabila beliau menyukai suatu makanan dimakannya dan apabila beliau tidak menyukainya dibiarkan saja.” ( H.R. Muslim )

 

Kelimabelas, Mengunyah Makanan Dengan Zikrullah

Suatu hal yang mubah jika diniatkan nuntuk ibadah maka akan dapat pahala, diantara makan diniatkan supaya kuat dalam melaksanakan ibadah. Seusai makan jangan langsung tidur, karena membuat malas dan perut besar. Makan dengan zikrullah diajarkan oleh Nabi melalui hadits:

“Lumatlah makan kalian denganm zikrullah dan sholat dan janganlah kalian tidur setelah makan, karena akan menjadikan hati kalian keras.” ( H.R. Abu Nu’aim )

 

Keenambelas, Mendahulukan Makan Sebelum Sholat

Ketika makanan dihidang dan waktu sholat sudah tiba, maka makanlah terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar mengerjakan sholat lebih focus jika perut tidak dalam keadaan lapar. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

“Apabila makanan malam telah terhidang, sedangkan sholat didirikan maka makan malamlah terlebih dahulu.” ( H.R. Bukhari )

 

Ketujubelas, Mengonsumsi Makan Yang Halal Dan Baik

Allah memerintahkan kita untuk memakan makanan yang baik dan toyyibah (baik). Sebagimana dalam Firman Allah:

“Wahai manusia !makanlah dari yang halal dan baik yang terdapat dibumi dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan.” ( Q.S. al-Baqarah :168 ).

Karena apapun yang kita makan menjadi daging, jangan sampai daging yang tumbuh berassal dari hal-hal yan g haram. Karena setiap dagingh yang tiumbuh dari makan yang haram neraka tempatnya.” ( H.R. Tirmidzi)

 

 

By. Ahmad khusein

 

 

 

RISALAH AHLU SUNNAH

Gambar

 

 Judu Buku       : Risalah Ahlusunnah Wal-Jama’ah; Dari Pembiasaan Menuju Pemahaman dan   Pembelaan Akidah-Akidah NU

Penulis             :Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Penerbit           :Khalista

Tahun Terbit    : Cetakan I, Juni 2012

Tebal               : XIV + 346 Halaman                                    

 

Di masyarakat Indonesia saat ini banyak berbagai aliran pemikiran,ormas dan saling serang menyerang secara pemikiran. Buktinya sudah semakin marak saling membid’ahkan, saling mengkafirkan sesame muslim dikarnakan adanya perbedaan furruiiyah . yang seharusnya tak perlu dimasalahkan. Selama perbedaan itu ada dasar dan mempunyai rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan salah satu komoditi yang paling laris adalah pengakuan “Ahlu Sunnah Wal Jama’ah”. Maka dari itu kita lihat bagaimanya sudut pandang para ulama tentang Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.

Dalam Buku “Risalah Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah; dari Pembiasaan Menuju Pemahaman dan Pembelaan Akidah-Akidah NU”. Buku ini ditulis oleh Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur yang terdiri dari tiga penulis yaitu; KH. Abdurrahman Navis,Lc., M.H.I, Muhammad Idrus Romli,Faris Khoirul Anam, Lc., M.H.I. Dan Pengantar dari KH. Miftahul Akhyar, Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Berikut sepenggal pengantar dari beliau:

“ Selama ini, banyak orang, kalangan, dan kelompok yang mempertanyakan Paham NU, baik akidah maupun amaliyah. Di tengah masyarakat, muncul “serangan-serangan” yang menggugat tata cara ibadah (‘ubudiyah) dan tradisi keislaman yang dilakukan warga NU, seperti mauled Nabi, Tahlilan, istighatsah, tawassul dan lain sebagainya. Kaum nahdhiyyin yang mencerminkan mayoritas umat Islam di Indonesia merasa terganggu dengan adanya cap bid’ah, khurafat, syirik pada amaliyah yang telah menjadi kebiasaan mereka tersebut. Selain itu, muncul pula kelompok dan aliran yang tidak sesuai dengan paham Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah (Aswaja) yang menjadi keyakinan NU. Tak jarang, paham-paham tersebut memepengaruhi pikiran warga nahdliyin”.( KH. Miftahul Akhyar )

Berdasarkan masalah diatas maka disusunlah buku “Risalah Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah; dari Pembiasaan Menuju Pemahaman dan Pembelaan Akidah-Akidah NU”.

 

Secara garis besar buku ini membahas tiga tema utama:

Pertama, penjelasan tentang berbagai kelompok, aliran dan sekte dalam sejarah umat Islam serta beberapa kelompok atau organisasi yang lahir dan berkembang pada kurun-kurun akhir, baik di Indonesia maupun di Negara lain. Pembahasan ini berguna untuk meletakkan posisi Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah yang mederat (tawassuth).

Kedua, pembahasan tentang Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah yang di ikuti oleh Nahdhatul Ulama (Aswaja NU), termasuk penjelasan mengenai madzhab teologi al_Asy’ari dan al-Maturidi yang di ikuti oleh organisasi terbesar di Indonesia ini, bahkan oleh mayoritas umat Islam di dunia sepanjang zaman.

Ketiga, pemaparan mengenai tradisi islami dan dalil-dalilnya. Khususnya bagi warga NU yang barangkali memandang tradisi islami sebagai suatu kebiasaan, kini sudah saatnya memahami, bahkan melakukan pembelaan, bahwa apa yang mereka lakukan selama ini buaknlah bid’ah yang sesat, yang dapat menjerumuskan mereka dalam siksa neraka. Sehingga bagi selain warga NU yang selama ini rajin menuduh bahwa NU adalah “gudang”nya tahayul, bid’ah, c(k)hurafat (yang biasa disingkat TBC), menjadi mengerti bahwa yang dilakukan umat islam yang berafiliasi ke NU ternyata memiliki dasar dalil. Minimal, mereka menjadi sosok yang dapat memahami perbedaan ditengah umat dengan cara yang santun, dewasa, dan arif. Perbedaan dalam masalah furu’iyyah (cabang agama) adalah suatu keniscayaan, bukan malah dijadikan sebagai senjata yang digunakan untuk menyerang sesame saudara seiman dan seagama.

Dalam bagian pertama buku ini menjelaskan tentang kelompok, aliran dan sekte dalam sejarah umat Islam yang diawali dengan penjelasan Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah. Baik secara bahasa dan istilah. Berikut kutipan dari buku tersebut.

Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah dari sudut pandang bahasa:

Ada tiga kata yang membentuk istilah tersebut, yaitu:

  1. Ahl, beerati keluarga, golongan, atau pengikut.
  2. Al-Sunnah, secara bahasa bermakna al-thariqah wa law ghaira mardhiyah (jalan atau cara walaupun tidak diridhai).
  3. Al-Jama’ah, berasal dari kata jama’a artinya mengumpulkan sesuatu, dengan mendekatkan sebagian ke sebagian yang lain. Kata “Jama’ah” juga berasal dari kata ijtima’ (perkumpulan), yang merupakan lawan kata dari tafarruq (perceraian) dan juga lawan kata dari furqah (perpecahan). Jama’ah adalah sekelompok orang banyak; dan dikatakan juga sekelompok manusia yang berkumpul berdasarkan satu tujuan. Selain itu, jama’ah juga berarti kaum yang sepakat dalam suatu masalah.

Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah dari sudut pandang istilah:

Menurut istilah, “Sunnah” adalah suatu nama untuk cara yang diridhai dalam agama, yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW atau dari selainnya dari kalangan orang yang mengerti tentang Islam, seperti para Sahabat rasulullah SAW. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah:

“Ikutilah sunnahku dan sunnah para Khulafa Rasyidin setelahku” (Hasyim Asy’ari, Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah, hal.5)

Dan beberapa pendapat para ulama pengertian Ahlu Sunnah Wal Jama’ah:

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani (471-561 H/1077-1166 M) menjelaskan:

“Al-Sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW (meliputi ucapan, perilaku serta ketetapanbeliau). Sedangkan al-Jama’ah adalah segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan sahabat Nabi SAW pada masa khulafaur Rasyidin yang empat, yang telah diberi hidayah (mudah-mudahan Allah member rahmat kepada mereka semua).” (Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq, Juz I, hal.80)

Menurut KH.M. Hasyim Asy’ari, “Sunnah” adalah:

“Nama bagi jalan dan perilaku yang diridhai dalam agama yang ditempuh oleh Rasulullah SAW atau orang-orang yang dapat menjadi teladan dalam beragama seperti para sahabat –radhiyallahu ‘anhum- , berdasarkan sabda Nabi SAW,”Ikutilah sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin sesudahku”. (Hasyim Asy’ari, Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah, hal.5)

Menurut Syaikh Abdullah al-Harari menjelaskan:

“Hendaklah diketahui bahwa Ahlu Sunnah adalah mayoritas umat Muhammad. Mereka adalah para sahabat dan golongan yang mengikuti mereka dalam prinsip-prinsip akidah……..sedangkan al-jama’ah adalah mayoritas terbesar (al-sawad al-a’zham) kaum muslimin.” (Syaikh Abdullah al-Harari, Izhhar al-‘Aqidah al-Sunniyyah bi Syarh al-‘Aqidah al-Thahawiyyah, Beirut: Dar al-Masyari,1997,hal.14-15)

 

Selain itu Ahlu Sunnah memiliki cirri khas yaitu , “Allah ada tanpa arah dan tempat” dalam akidah. Dalam  hukum fiqih berpedoman pada mazhab yang empat, yaitu: Imam Abu hanifah, Imam malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad bin Hambal. Dalam bidang hadts merujuk pada al-Kutub al-Sittah.

 

Demikian sebagian kecil dari penjelasan dari buku “Risalah Ahlusunnah Wal-Jama’ah”.

 

 Oleh: Ahmad Khusein

 

 

 

 

KHAZANAH

 Gambar

Judul Buku      : KHAZANAH; Menelisik Warisan Peradaban Islam dari Apotek hingga  Komputer   Analog.

Penulis             : Heri Ruslan

Penerbit           : Republika

Tahun Terbit    : April 2010

Tebal Buku      : VI + 294 Halaman

Perjalanan sejarah manusia tak pernah melupakan peran penting umat islam di era keemasan terutama pada dua periode kekhalifahan Ummayyah dan Abbasiyah. Kekhalifahan islam yang sempat berjaya di abad pertengahan (Middle Age atau Al ‘Ushuuru Al-Wustho) telah memberikan sumbangsih yang sangat tak ternilai harganya bagi peradaban modern. Boleh jadi, tanpa kontribusi dari pemimpin, ilmuwan dan cendikiawan atau Ulama di era keemasan Islam, dunia tidak akan mengalami lompatan kemajuan seperti yang kita rasakan saat ini.

Sayangnya kontribusi penting peradaban Islam di berbagai bidang seakan sengaja dilupakan. Karena tenggelam dalam klaim-klaim barat yang dijadikan kiblat ilmu pengetahuan saat ini. Akibatnya para pemuda muslim pun lebih mengagumi ilmuan barat bahkan mengadopsi cara hidup orang barat tanpa filterisasi, yaitu yang dikenal dengan istilah westernisasi. Padahal sebelum dunia barat menguasai peradaban, Islamlah yang menguasai peradaban dunia. Ironisnya kurikulum di Negara kita sendiri seakan tak pernah mengenalkan sejarah dan kegemilangan yang pernah ditorehkan umat islam.

Membaca buku” KHAZANAH; Menelisik Warisan Peradaban Islam dari Apotek Hingga computer Analog” membawa kita ke dalam dunia keemasan yang terlupakan. Jika dalam buku-buku pelajaran dari SD sampai Perguruan Tinggi menyodorkan para penemu-penemu barat. Dalam buku ini akan membuat kita terperangah oleh para penemu-penemu Islam.

Pada awal pembahasan buku ini mengupas “Jejak Kedokteran Islam”. Pengembangan kedokteran Islam diawali dengan gerakan penerjemahan literature kedokteran dari bahasa Yunani dan bahasa lainnya, kedalam bahasa Arab yang berlangsung pada abad ke-7 hingga ke-8 masehi. Proses transfer ilmu kedokteran yang berlangsung pada abad ke7 dan ke-8 masehi membuahkan hasil. Karena pada abad ke-9 hingga ke-13 masehi, dunia kedokteran Islam berkembang sangat pesat.Terbukti dengan berdirinya rumah sakit-rumah sakit besar, sekolah kedokteran dan menelorkan para dokter-dokter Islam.

Sekolah kedokteran yang pertama dibangun umat islam adalah sekolah kedokteran Jundi Shapur. Khalifah Al-Mansur pemangku kekhalifahan saat itu mengangkat Judis Ibnu Bahtishu sebagai dekan sekolah kedokteran tersebut.

Era kejayaan Islam telah melahirkan sejumlah tokoh kedokteran terkemuka seperti, Al-Razi,Al-Zahrawi, Ibnu Sina, Ibnu Rush, An-Nafis dan Ibnu Maimon.

            Al-Razi (841-926) dikenal barat dengan nama Razes dengan karya tulisnya: Al-mansur (liber al-mansofis), Al-Murshid dan Al-Hawi. Al-Hawi terdiri dari 22 volume yang menjadi rujukan sekolah kedokteran Paris.

            Al-Zahrawi (930-1013) orang barat memanggilnya Abulcasis. Beliau adalah sang ahli bedah yang menulis ensiklopedia ilmu bedah “Al-Tastif Liman Ajiz’an Al-Ta’lif” buku ini digunakan di dunia barat hingga abad ke-17.

            Ibnu sina arang barat menyebutnya Avicenna (980-1037) dengan karya fenomenalnya “Al-Qanon Fi Al-Tibb” (Canon of Medicine) yang menjadi referensi sekolah kedokteran di Eropa hingga abad ke-17.

            Ibnu Rush (1126-1198) yang di duia barat dikenal dengan nama Averroes dengan karya tulisnya “Al-Kulliyat Fi Al-Tibb”(Colliyet). Selain menulis Colliyet beliau menulis tentang praktek kedokteran “Al-Taisir”.

Paparan diatas adalah sebagian kecil dari “KHAZANAH; Menelisik Warisan Peradaban Islam dari Apotek Hingga Komputer Analog”. Jika selama ini kita berasumsi bahwa semua penemuan dan teknologi dari barat. Padahal tidak demikian, ilmuan islam bekiprah di dunia lewat penemuan-penemuan spektakuler. Karena kita saat ini terbuai oleh pencapaian teknologi barat.

Dalam buku ini berisi sejarah kiprah ilmuan Islam dalam berbagai bidang ilmu,yaitu: kedokteran, farmasi, astronomi, matematika, kamera obscura, computer analog, teori relativitas, kedirgantaan hingga industry tekstil. Menjelaskan secara historis pada kita bahwa ternyata Islam pernah mencapai kejayaam dengan pencapaiam-pencapaian yang luar biasa dalam dunia keilmuan, teknologi maupun industry.

Sekarang tinggal bagaimana kita belajar pada sejarah dan dijadikan motivasi untuk berpacu mengenbangkan keilmuan Islam. Jangan hanya jadi penonton dan terbuai oleh kemajuan barat saat ini. Atau Euforia  belaka terhadap masa kejayaan Islam. Tapi pikirkan, laksanakan dan berbuat semaksimal mungkin untuk kemajuan keilmuan islam saat ini.

Sebagai mana konsep pendidikan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW “Menuntut Ilmu dari buaian sampai keliang lahat”. Hadits ini mengisyaratkan bahwa tidak ada kata selesai dalam belajar dan menuntut ilmu sampai ajal menjemput kita.

Semoga dengan resensi yang sederhana ini siapa pun yang membacanya dapat membaca, mengambil pelajaran dari sejarah. Sebagain pelejut semangat untuk berkreasi dalam kemampuan dan keahlian masing-masing untuk kemajuan umat.aminnn.

Oleh: Ahmad khusein

Biodata:

Nama        : Ahmad Khusein

TTL           : Pontianak, 4 Maret 1989

Alamat       : jl. Dahlia III Blok ND.I No.26 Perum BIP Purwakarat 41181

HP              :085777883455

FB              :Ahfa Sang Pecinta

Twitter       :@ahmadkhusein1

Email         :khuseinahmad@gmail.com

 

Nahjul Fashahah

Gambar

Judul Buku      : Nahjul Fashahah, Ensiklopedi Hadis Masterpiece Muhammad SAW

Penulis             : Abughasim Payande

Penerjemah      : Abdul Halim, S.Ag.

Penerbit           : Pustaka Iiman

Tahun Terbit    : Maret  2011 M

Tebal Buku      : Cove + VIII + 691 halaman

Puncak retorika atau kitab mulia berjudul Nahj Al-Fashahah adalah sebuah harta tak tertandingi dari ucapan-ucapan bijak nan fasih Nabi Muhammad SAW. Pertama kali dikumpulkan oleh Abughasim Payande dan diterbitkan pada tahun 1957 dalam edisi Arab-Persia. Kemuadian diterjemahkan dari bahasa Perssia ke bahasa Inggris oleh Dr. Hussein Vahid Dastjerdi dan Dr. Nasrolah Shameli, diterbitkan oleh Isfahan University-Arts and Cutural studies Research Center, 2008. Dan di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Abdul Halim, S.Ag, diterbitkan oleh Pustaka Iman Pada Maret  2011 M  atau bertepatan dengan Rabi’ Al-Tsani 1432 H.

Nahjul Fashahah berisikan kompilasi dari ucapan dan pidato Nabi SAW.  Atau lebih dikenal dengan istilah Hadits. Sebagaimana kita ketahu Hadits adalah sumber hokum kedua setelah Al-Qur’an dalam menetapkan hokum Syara’. Nabi Muhammad sebagai Insan Kamil penyampai wahyu dengan tutur bahasa  yang  fasih dan mudah dipahami oleh orang  yang mendengarkannya. Jika dahulu para sahabat mendengar langsung dari beliau langsung, maka orang-orang setelah para sahabat mengetahui melalui para sahabat  atau biasa disebut  tabiin. Dan dari tabiin ke tabiit tabiin sampai kepada ulama secara bersambung, maka sampailah pada masa kita saat ini.

Nahjul Fashahah dianggap sebagai ensiklopedia yang tiada padanannya, berisikan hadist-hadits pendek tentang akhlak utama Sang Nabi SAW. Dikompilasikan oleh Abulghasim Payande (1957) dengan mengutip dari sumber-sumber terpercaya baik Sunni maupun Syi’ah.  Memuat dari 3.222 hadits pendek yang di susun secara alfabetis berdasarkan urutan huruf hijaiyah. Dan penomoran secara urut mulai dari 1 sampai 3.222.

Dalam Nahjul Fashahah berisikan kompilasi ucapan dan pidato yang mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari persoalan akidah, moral, social, persoalan-peersoalan kemanusiaan sampai politik.

Cuplikan dari Kitab Nahjul Fashahah:

Bencana dari keberanian adalah berbuat zalim. Bencana bahaya martabat keluarga adalah membanggakan diri. Bencana murah hati adalah mengungkit-ngungkit kebaikan yang telah diberikan. Bencana keindahan adalah keegoisan. Bencana ucapan adalah kebohongan. Bencana ilmu adalah lupa. Bencana kebijaksanaan adalah kurang akal. Bencana kedermawanan adalah pemborosan. Adapun bencana Agama adalah memperturutkan hawa nafsu. ( Nahjul Fashahah,No.1)

Segeralah beramal sebelum dating enam hal: Pemerintahan orang-orang bodoh, banyak ajudan, jual beli hokum, menyepelekan darah, pemutusan silaturrahmi, dan orang-orang  baru masuk islam yang menjadikan Al-Qur’an sebagai alat musik. Mereka mempersilakan salah seorang dari mereka untuk memainkannya meskipun pemahaman agamanya sedikit. (Nahjul Fashahah,No.1072)

Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah bagimu; memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah sedekah; member petunjuk kepada seseorang di negeri kesesatan adalah sedekah bagimu; dan menyingkirkan batu, duri, atau tulang dari jalan adalah sedekah bagimu. ( Nahjul Fashahah,No.116)

Allah menciptakan rahmat seratus bagian, lalu menahan Sembilan puluh Sembilan bagian di sisi-Nya dan menurunkan satu bagian kedunia. Dengan satu bagian ini makhluk saling mengasihi, hingga seekor kuda mengangkat kakinya menghindari anaknya karena takut menginjaknya. (Nahjul Fashahah,No.1300)

Aku pernah masuk surge. Kulihat di kedua paling pintunya tertulis tiga baris kalimat menggunakan emas. Pada baris  pertama tertera,”Tuhan hanyalah Allah”. Pada baris kedua tertera,”Apa yang telah kami lakukan,kami dapatkan. Apa yang telah kami makan, kami beruntung. Apa yang kami tinggalkan merugi.” Adapun pada baris ketiga tertera,”Umat berdosa, sedangkan Tuhan Maha Pengampun.”.(Nahjul Fashahah,No.1550)

Sumpah sesuai dengan niat yang bersumpah.(Nahjul Fashahah,No.3222)

Nahjul Fasahah, Puncak kefasihan manusia sempurna (Insan kamil)

KesempurnaanRasulullah SAW sebagai insane kamil meliputi seluruhnya, yaitu; kesempurnaan jiwa dan raga, karena Al-Qur’an hendak diturunkan melalui beliau, maka Allah telah mempersiapkan beliau dengan kefasihan lidah dalam berbicara, dengan kefasihan yang tiada seorang pun yang dapat menandinginya.

Semua riwayat sepakat bahwa Rasulullah SAW adalah orang paling fasih dalam berbicara, jelas dan mantap. Apabila  beliau menguraikan kata-kata tidak bertele-tele, susunan kata-katanya selalu padat dan berisi disamping itu mutiara hikmah selalu menghiasi ucapan beliau.

Ali bin Abi thalib ra. Adalah menantu beliau yang sangat ahli tentang sastra arab, dia pernah berkata:”Aku tidak pernah mendengar perkataan  yang ganjil dan langka dari bahasa arab, melaikan telah aku dengar terlebih dahulu dari Rasulullah SAW.

Kelebihan Nahjul Fashahah adalah tersusun secara alfabetis menurut hijaiyyah dan penomoran yang berurut sehingga kita mudah dalam pengutipan untuk sebuah referensi. Untuk abjad alif berisi 1069 hadits dan penomoran nya berlanjut pada Abjad ba’ yang dimulai dari 1070 dan seterusnya.

Kekurangan dari Nahjul Fashahah adalah tidak disebutkannya para perawinya. Sehingga kita tidak tahu kwalifikasi menurut para Muhaddits, atau tingkatan hadits misalnya; shohih,hasan dan sebagainya. Tapi bukan berarti menjadi kurang dalam kualitas haditsnya. Hanya saja tidak disebutkan perawi dan kwalifikasinya.

Oleh: Ahmad Khusein

Tata Cara Sholat Nabi SAW

 

GambarJudul Buku     : Tata Cara Sholat Nabi SAW

Penulis             :Dr. Sa’id bin Ali bin Wah

Penerjemah      : Abu Khodijah Ibnu Abdurrahman

Penerbit           : Irsyad Baitus Salam

Tahu terbit       : Oktober 2005

Tebal buku      : Cover + 320 halaman

 

Sifat sholat yang sempurna adalah sholat yang dikerjakan seorang muslim sebagaimana yang telah dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam hadits Malik bin Huwairits ra. Nabi SAW bersabda:

“Shalatlah kalian sebagaimana melihatku sholat” (HR. Bukhari)

Sesuai dengan redaksi hadits diatas, Nabi memerintahkan kepada kita untuk sholat sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh Beliau. Pada zaman nabi Muhammad masih hidup para sahabat dengan mudah menirukan sesuai sholatnya Nabi Muhammad. Lalu bagaimana kita tahu bahwa sholat yang kita kerjakan sudah memenuhi criteria sholat Nabi?. Baik dari segi rukun ,wajib ,sunnah serta bacaannya.

Maka dari itu diperlukan penelusuran dari hadits, sehingga sholat yang kita kerjakan sesuai yang telah dicontohkan Nabi. Sehinga sholat kita kerjakan sah dan sempurna.

Buku “Tata Cara Sholat Nabi SAW” salah satu rujukan untuk mengetahui tata cara sholat Nabi. Buku ini merupakan terjemahan dari bagian Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf  al-Qahthani yang berjudul ”Sholatul Mu’min”. Dalam buku aslinya yang berbahasa arab, penulis tidak hanya membahas tentang sholat, tapi juga mengupas secara detail dan rinci berbagai masalah sholat dan yang berkaitan dengannya, termasuk Thaharah, Imamah dalam sholat dan sebagainya.

Sedangkan dalam edisi bahasa Indonesia yang diterjemah oleh Abu Khodijah Ibnu Abdurrahman hanya difokuskan pada pembahasan sholat. Dalam buku ini dibagi menjadi empat bagian:

Pertama, sifat sholat; yang berisi tiga puluh satu poin pembahasan mulai dari wudhu secara sempurna sampai membaca zikir sesudah salam

Kedua, rukun sholat dan hal-hal yang diwajibkan dan disunnahkan dilakukan dalam sholat. Mencakut tiga poin pembahasan,yaitu; rukun, wajib dan sunnah.

Ketiga, hal-hal yang makruh dalam sholat dan pembatalnya.

Keempat, sujud sahwi yang meliputi tiga poin pembahasan, yaitu; sujud sahwi yang pernah dilakukan Nabi, sujud sahwi sebelum atau sesudah salam dan rincian sebab-sebab sujud sahwi dan hukumnya.

Dalam pembahasan empat bagian diatas didasarkan pada hadits Nabi, Sehingga mempunyai dasar yang valid dan terpercaya. Semua kegiatan sholat baik rukun, wajib dan sunnah berlandaskan Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh para Muhaddits. Sehingga kita tahu dasar hukum yang kita kerjakan dalam sholat mulai dari takbir sampai salam bahkan zikir setelah salam.

Dalam bagian sifat sholat penulis mengutip Hadits ‘Abdullah bin Umar ra. Dari Nabi SAW, beliau bersabda:

“Tidak akan diterima (oleh Allah) sholat yang dikerjakan tanpa wudhu’ dan tidak akan diterima (oleh Allah) shadaqah dari harta yang haram.”(HR. Muslim).

“Jika engkau telah berdiri untuk mengerjakan sholat, maka bertakbirlah.”(HR. Bukhari dan Muslim)

“Tidak sah sholat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.”( HR.Bukhari dan Muslim)

“Adalah Rasulullah SAW. Bila selesai membaca Ummul Qur’an (Al-Fathah), beliau mengucapkan’aamiin’ seraya mengeraskan suaranya.” (HR. Daruquthni dan Hakim)

Ini adalah beberpa kutipan hadits yang ditulis dalam buku ”Tata Cara Sholat Nabi SAW”. Dengan berdasarkan hadits-hadits Nabi penulis mengurutkan pelaksanaan tata cara sholat sesuai dengan apa yang telah Nabi contohkan.

Maka dengan dasar hukum dan sumber yang jelas tersebut kita ittiba kepada Nabi dalam sholat melalu para Sahabat ke Tabiin, dari Tabiin ke Tabiit Tabiin sehingaga sampai kepada kita melalu Para Ulam yang mumpuni di bidangnya masin-masing.

Al- Qahthani telah membantu kita dengan menyusun buku tata cara sholat Nabi SAW dengan berlandaskan hadits-hadits yang shahih. Beliau merinci rangkain ibadah sholat sesuai urutannya mulai dari takbiratul ihram sampai salam, baik gerakan maupun bacaannya. Dan menjelaskan mana yang termasuk perbuatan rukun, wajib dan sunnah. Sehingga dengan penjelasan tersebut kita dapat menggambarkan kesempurnaan sholat Nabi SAW. Sesuai sabda beliau dalam hadits-hadits yang shohih.

Oleh : Ahmad Khusein

Benarkah Tahlilan & Kenduri Haram?

 

Judul buku      : Benarkah Tahlilan  dan Kenduri Haram?

Penulis             :KH. Muhammad Idrus Ramli

Penerbit           : Khalista

Tahun Terbit    :Desember 2011

Tebal               :V+79 hlm,12 X 18 cm

 

 

 

Berawal dari pengalaman sang penulis, KH. Muhammad Idrus Ramli saat mengisi acara daurah pemantapan “Ahlu Sunnah Wal Jamaah” di salah satu pondok pesantren Sleman Yogyakarta. Salah seorang peserta daurah bertanya kepada pemateri tentang hokum selamatan kematian, Tahlilan dan Yasinan yang mengakar di Nusantara sejak ratusan tahun silam. Penanya juga menyodorkan selebaran “Manhaj Salaf”, setebal 14 halaman. Dengan artikel utama “Imam Syafi’i Mengharamkan Kenduri Arwah, Tahlilan, Yasinan dan selamatan”. Selebaran tersebut sudah tersebar di beberapa daerah dan membikin resah, sementara isinya penuh dengan pemutar balikan fakta, pemalsuan dan distorsi terhadapa pernyataan para ulama Mazhab Syafi’i.

Berangkat dari problem diatas buku dengan judul “Benarkah Tahlilan dan Kenduri Haram?” di tulis.Sebagai bantahan ilmiah terhadap selebaran “Manhaj Salaf” tersebut.

Selain berawal dari permasalahan diatas, beliau sekitar bulan Nopember 2011, penulis dihubungi oleh Gus Ma’ruf Asrori, Wakil Ketua Lajnah Ta’lif Wan-Nasy PBNU. Beliau menceritakan kepada penulis, bahwa selebaran “Manhaj Salaf” tersebut tersebar didaerah Cilacap dan sekitarnya. Sehingga beliau menulis bantahan ilmiah ini.

 

Salah satu jawaban ilmiah dari KH. Muhammad Idrus Ramli, yaitu:

 

“Selamatan hari kematian, hari kedua, ketiga, ketujuh dan seterusnya tidak diharamkan dalam fatwa-fatwa imam Syafi’I dan para ulama besar yang menjadi pengikut mazhabnya. Demikian keterangan yang tertera dalam kitab al-Umm, I anah al-Thalibin, Hasyiyah al-Qulyubi wa ‘Amirah, Mughni al-Muhtaj, al-Fiqh ‘ala al-Mazhabi al-arba’ah dan lain-lain. Dalam hal ini al-Imam al-Syafi’i berkata dalam kitab al-Umm:

“Aku sangat suka kalau para tetangga si mati atau kerabatnya menyediakan makanan untuk keluarga si mati pada hari kematian dan malamnya sehingga mengenyangkan mereka. Sungguh hal itu sunnah dan ibadah yang mulia. Itu juga perbuatan orang-orang baik sebelum dan sesudah kita, karena ketika berita kematian Ja’far dating, Rasulullah SAW bersabda:”Sediakan makanan bagi keluarga Ja’far, karena mereka sedang kedatangan musibah yang menyita mereka.”(Al-Imam al-Syafi’I, al-Umm,juz 1 hal.278).

 

Ini adalah salah satu kutipan dari buku “Benarkah Tahlilan & Kenduri Haram?” yang ditulis oleh KH. Muhammad Idrus Ramli. Permasalahan dalam buku tersebut disajikan dalam bentuk soal dan jawaban. Selain Kitab al-Umm yang menjadi rujukan KH. Muhammad Idrus Ramli adalah kitab-kitab dari para ulama pengikut Mazhab Syafi’i. Diantaranya adalah:

I anah al-Thalibin, Hasyiyah al-Qulyubi wa ‘Amarah, Mughri al-Muhtaj, dan al-Fiqh ‘ala al-Mazhahib al-Arba’ah. Beliau menjawab satu persoalan dengan kelima kitab para ulama Mazhab Syafi’iyyah, sehingga mementahkan terhadap isi artikel pada selebaran “Manhaj Salaf” diatas.

 

Bebberapa poin permasalahan yang dibahas dalam buku beliau antaranya:

  • Hukum Kenduri Kematian
  • Kontribusi Tetangga
  • Khilafiyyah Ulama Salaf
  • Tahlilan dan Yasinan
  • Tradisi 40,100 dan seribu Hari
  • Hadits Tentang Al-Quran Untuk Orang mati
  • Bid’ah Hasanah
  • Ketidak Jujuran Ilmiah Wahabi
  • Bersama Buku Soleh So’an
  • Benarkan Dulu Baru Rekayasa Dalilnya
  • Sumber Dari Luar Islam
  • Orang Miskin Bersedekah

Di dalam bagian akhir dari karya tulis tersebut beliau memberikan kesimpulan.

Pertama; tradisi selamatan kematian selama tujuh hari, dikalangan ulama salaf terdapat perselisihan pendapat ada yang mengatakan makruh, boleh dan dianjurkan.

Kedua; tradisi Tahlilan yang didalamnya terdapat pengiriman hadiah pahala kepada orang yang meninggal, terjadi perbedaan tipis dikalangan ulama salaf, yaitu: mayoritas mengatakan sampai kecuali Imam Syafi’i.

Ketiga; dalam tradisi Yasinan, berkaitan dengan pembacaan Surat Yasin di sisi orang yang akan meninggal dunia, dilakukan oleh kalangan sahabat dan tabi’in.

Oleh : Ahmad Khusein